PIC SELECTION AREA
You can choose pictures from "Picture Collection" tab
or upload your own picture
(see "Personal Upload" tab). Then drag the pictures to the "Writing Area"
Search the username of the person u wanted to mention. After you find it, type the @ symbol followed by the right username on your writing area. Example : @username
WRITING AREA
You can fill this area with as many different template types as needed by dragging up the template from "Template Selection Area" below. If any of the template used contains picture, you can insert pictures by dragging the selected picture from "Pic Selection Area". To insert quotes, please use the quotes template below so the quotes will be listed on the Quotes Page.

TEMPLATE SELECTION AREA

Press this button to review your post.
Remember to save your work progress frequently by pressing this button.
Press this button to go to the next phase before publish.
Press this button to cancel your post.


ABOUT USER


febrynahalim
febrynahalim
Member since:
May 2013
Editor Level :
Editor 1 Editor 2

Are You Happyly Married Or You Just Married?

Published : 25 May 2016
|
265
0
0
|
Image Credit By gettyimage
Artikel ini terinspirasi oleh seorang teman baik yang tiba-tiba bertanya, "Gimana sih supaya bisa tetap mesra meskipun sudah menikah? Kok kayaknya lo beruntung banget ya punya suami kayak suami lo." Lantas saya terdiam dan memikirkan pernyataannya barusan, "Apakah benar suami saya dan pernikahan saya seideal yang ia gambarkan?" Jawabannya, hmmm.. tentu saja tidak. Lantas, dari mana datangnya perasaan bahagia jika bukan dari sebuah kesempurnaan?

Rasa bahagia lahir dari rasa syukur dan apresiasi terhadap apa yang kita miliki saat ini.

Persepsi teman saya tentang kehidupan pernikahan saya mungkin ia dapatkan dari postingan saya dan pasangan di media sosial. Namun, bukan berarti pernikahan kami seideal yang digambarkan di sana. Di balik itu ada banyak sekali proses yang tidak bisa kami ceritakan panjang dan lebar di media sosial.
Faktanya, tidak ada pernikahan yang benar-benar ideal. Di balik pasangan yang kelihatannya sangat bahagia pasti ada begitu banyak argumentasi, usaha, pengorbanan, dan bahkan air mata yang berhasil mereka hadapi bersama-sama.

Di dalam kehidupan pernikahan saya, ada saat-saat di mana kami berdua tidak bisa sama-sama memberikan 100% untuk pernikahan kami. Kadang saya yang harus berkorban dan seringkali pasangan saya yang harus lebih banyak berkorban. Hehehe…
"Happily married couples take the good with the bad and become stronger for it."
- Unknown -
Lepas dari ketidaksempurnaan kami sebagai pasangan, masih ada begitu banyak hal baik yang bisa kami syukuri. Paling tidak kami punya tempat untuk berbagai cerita dan mimpi sambil terus belajar untuk menjadi pasangan yang lebih baik lagi.
"Relationships last long because two brave people made a choice to keep it, fight for it, and to work for it."
- Unknown -
Image Credit By theeverylastdetail.com/
Rasa bahagia tercipta dari sebuah usaha untuk terus saling mempelajari (continuously pursue each other).

Tingkat kepuasan dan kebahagiaan seseorang atas sebuah hubungan sangat ditentukan oleh seberapa dalam orang tersebut merasakan sebuah ikatan (connection) terhadap pasangannya. Sebuah ikatan tidak terjadi begitu saja hanya karena adanya sebuah status. Ikatan harus dibangun.

Ikatan dibangun dari rangkaian interaksi yang diusahakan dan dilakukan secara sengaja (intentional) sehingga mampu memenuhi kebutuhan emosional dan keinginan pasangan kita. Pada saat ikatan itu dibangun terus menerus, maka tingkat kepuasaan dan kebahagiaan kita terhadap hubungan tersebut juga akan semakin tinggi.

Sederhananya, setiap manusia memiliki kebutuhan emosional. Jika kita ingin membangun hubungan jangka panjang dengan seseorang, kita perlu membantu orang tersebut filling her or his emotional tank. Kebutuhan emosional yang dimaksud adalah :
  1. Kebutuhan untuk mencintai dan merasa dicintai.
  2. Kebutuhan untuk merasa istimewa, merasa penting, dan merasa dibutuhkan.
  3. Kebutuhan untuk merasa aman dan nyaman.
Nah, kebutuhan-kebutuhan yang saya sebutkan di atas dapat kita penuhi dengan berbagai macam cara yang akan saya bahas di artikel saya yang berikutnya karena pria dan wanita membutuhkan pendekatan yang berbeda dan akan terlalu panjang jika saya bahas di sini.

Selain kebutuhan, manusia juga memiliki yang namanya keinginan. Bedanya kebutuhan dan keinginan adalah kebutuhan adalah hal yang sifatnya general – semua orang lepas dari apakah ia seorang pria atau wanita, memiliki kebutuhan yang sama. Sedangkan keinginan sifatnya lebih spesifik. Keinginan adalah apa yang seseorang yakini harus ia dapatkan dari pasangannya untuk ia bisa berkata puas.
Nah, seringkali masalah timbul karena kita gagal mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginan kita kepada pasangan. Misalnya wanita seringkali memakai "kode" sehingga para pria seringkali gagal menangkap "kode" yang dilemparkan oleh istrinya. Atau para pria yang seringkali lebih memilih untuk diam dan mencari pemenuhan akan kebutuhannya di tempat lain. Bayangkan betapa fatalnya ketika kita berpikir kalau kita sudah cukup mengenal pasangan sehingga kita tidak merasa perlu mempelajari pasangan kita lagi.
"Never stop flirting with your spouse, and never start flirting with anyone else!"
- Unknown -
Saya berharap apa yang saya bagikan di atas tidak menjadi dasar untuk menunjukkan sikap tidak senang jika selama ini kita merasa pasangan kita belum memenuhi kebutuhan dan keinginan kita. Sebaliknya, saya berharap artikel ini bisa dibaca bersama-sama dan dijadikan panduan (guidance) untuk bisa saling memahami supaya pada akhirnya sekalipun pernikahan kita tidak sempurna, kita bisa berkata “Yes I am content!” dan terus berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Rate this article:
(0.00 out of 5)

RELATED ARTICLES

 
 
 

COMMENTS

0 Comments
No comments yet. Be the first one to write a comment now!
You have to log in or register to comment, like, and rate article
Report Article
You need to login first
Compose Message
Send Message To