PIC SELECTION AREA
You can choose pictures from "Picture Collection" tab
or upload your own picture
(see "Personal Upload" tab). Then drag the pictures to the "Writing Area"
Search the username of the person u wanted to mention. After you find it, type the @ symbol followed by the right username on your writing area. Example : @username
WRITING AREA
You can fill this area with as many different template types as needed by dragging up the template from "Template Selection Area" below. If any of the template used contains picture, you can insert pictures by dragging the selected picture from "Pic Selection Area". To insert quotes, please use the quotes template below so the quotes will be listed on the Quotes Page.

TEMPLATE SELECTION AREA

Press this button to review your post.
Remember to save your work progress frequently by pressing this button.
Press this button to go to the next phase before publish.
Press this button to cancel your post.


ABOUT USER


Inke_zhu
Inke_zhu
Member since:
July 2013
Editor Level :
Editor 1 Editor 2

Lebih Peduli Dengan Berempati

Published : 11 August 2014
|
323
0
0
|
Hari gini, siapa sih yang masih mau memikirkan orang lain? Sebagian orang mengatakan “Nggak usah lah ikut campur. Bukan urusan kita.” Yang lain lagi malah lebih ekstrem dengan berpikir “Nggak baik loh, ikut campur urusan orang. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya.”

Memang ada benarnya pemikiran di atas. Tapi, sadarkah bahwa kehidupan yang kita jalani semakin individualis? Salah besar jika kita berpikir untuk membiarkan orang lain menyelesaikan masalahnya sendiri, padahal jelas-jelas mereka butuh dukungan kita. Meskipun era semakin modern dan individualis dijunjung tinggi, jelas-jelas banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan. Tidak perlu jauh-jauh melirik Gaza atau Africa. Teman-teman dan kerabat kita pun membutuhkannya.

Kita tidak boleh diam saja. Untuk memulai kepedulian, kita perlu belajar membiasakan diri untuk berempati. Caranya? Lakukan kebiasaan berikut.

Lihat segalanya dari perspektif berbeda

Poin ini merupakan hal paling sederhana untuk berempati dan harus selalu dilakukan. Dalam suatu masalah atau kondisi, sering kali kita hanya memikirkan bagaimana nyaman dan amannya posisi kita sendiri. Ketika melihat orang lain bermasalah, kita cenderung menyalahkan mereka “Kok orang itu begitu sikapnya.”, “Kok mereka hidupnya seperti itu.”, dan masih banyak “kok…” yang lainnya.

Dalam kondisi tersebut, seharusnya kita mencoba berpikir, mengapa orang lain bersikap demikian. Misalnya seorang ayah yang tidak sempat menghadiri pertandingan anaknya, mungkin bukan karena dia lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga. Bisa jadi karena ia tidak bisa mengatur waktunya. Jika Ia tidak mencari nafkah, bagaimana keluarganya bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari? Begitu juga dengan karyawan yang kurang maksimal kinerjanya, bisa disebabkan oleh banyak hal, antara lain kondisi keluarga, jarak kantor yang jauh, kondisi kesehatan, benturan kepentingan dengan karyawan lain dan sebagainya.
Masuki dunia yang berbeda
Kita semua tidak akan pernah tahu seperti apa kesulitan dan gambaran hidup orang lain, kecuali kita sendiri yang menjalani hidupnya. Banyak ilmuwan sosiolog dan antropolog yang ikut hidup bersama subjek penelitiannya untuk mengetahui seperti apa sebenarnya kehidupan mereka. Bahkan pernah ada seorang peneliti bernama Wyn Sargent yang menikah dengan kepala salah satu suku di Papua. Pernikahan tersebut memang dipaksakan karena jika Wyn menolak, maka akan terjadi perang suku. Demi meredakan pertikaian, ilmu pengetahuan dan untuk mengetahui apa yang dirasakan warga suku di Papua, antropolog asal AS ini menyanggupinya.
"To understand a man, you must first walk a mile in his moccasin"
- Unknow -
Kita tidak harus seekstrim itu. Tetapi agar bisa memiliki empati, sesekali kita perlu merasakan apa yang dirasakan orang lain dan menjalani apa yang terjadi pada mereka. Hal ini bisa dimulai dari orang-orang terdekat kita, misalkan menggantikan tugas suami atau istri di rumah. Atau melakukan tugas-tugas bawahan dan asisten rumah tangga. Jadi tahu kan, bagaimana perasaan dan kondisi mereka sehari-hari? Ternyata tidak mudah menjalani apa yang terjadi pada orang lain.

Mencari tahu pemikiran orang lain lewat obrolan

Meningkatkan empati juga bisa dilakukan dengan ngobrol. Tentu bukan sembarang ngrumpi. Cobalah untuk lebih banyak mendengar, lebih banyak bertanya tentang pemikiran, perasaan dan cara mereka mengatasi permasalahan. Memang kadang-kadang kita tidak bisa menahan diri untuk tidak bersikap self-centered saat ngobrol, tetapi sesekali cobalah untuk mengutamakan orang lain. Dengarkan, identifikasi topik yang menurutnya penting, lalu tanyakan beberapa hal tanpa terkesan menginterogasi, sambil diselingi sedikit pendapat dari kita. Selain bisa memahami kehidupan, kondisi, dan cara pandang mereka, pendengar yang baik juga akan lebih disayang dan dikagumi. Sebisa mungkin, jadikan ini kebiasaan saat kita ngobrol dengan orang lain.
Image Credit By sharingdisini.com
Ikut dan selenggarakan kegiatan sosial

Empati bukan hanya dirasakan, tetapi diwujudkan. Empati juga tidak hanya untuk hubungan dua orang, tetapi juga bisa melibatkan banyak pihak sekaligus. Masih ingat tentang kegiatan bakti sosial semasa sekolah dan kuliah? Coba deh adakan kegiatan serupa di lingkungan rumah atau dengan komunitas. Daripada komunitas yang kegiatannya hanya arisan, bukankah lebih baik untuk berkontribusi bagi sesama? Misalnya dengan mengajar anak-anak jalanan setiap hari Minggu. Kita dan rekan-rekan bisa mengajarkan mereka beberapa hal, seperti bahasa Inggris, keterampilan, atau kegiatan bercerita.
Image Credit By www.umy.ac.id
Empati bisa dibangun dengan banyak cara. Tidak jarang, empati menjadi awal berubahnya kualitas hidup satu atau sekelompok orang menjadi jauh lebih baik.

Rate this article:
(0.00 out of 5)

RELATED ARTICLES

 
 
 

COMMENTS

0 Comments
No comments yet. Be the first one to write a comment now!
You have to log in or register to comment, like, and rate article
Report Article
You need to login first
Compose Message
Send Message To